Mengikuti Laseda Kalsel 2006 (6-habis)
Kandangan merupakan kota terakhir yang kami kunjungi. Setelah pada cerita kemarin dikisahkan mengenai kunjungan ke Makam Tumpang Talu dan kawasan Pemakaman Amuk Hantarukung, kali ini cerita berkisah tentang Masjid As Su'ada, Tugu Bersejarah 17 Mei 1749, dan Benteng Gunung Madang. Berikut ceritanya!
JAM di tangan kiri saya ketika itu menunjukkan pukul 10.00 Wita. Usai mendengarkan penjelasan segala hal yang berkaitan dengan Makam Tumpang Talu, lalu mengunjungi Pemakaman Amuk Hantarukung di Desa Hantarukung, saya, seluruh peserta, dan panitia pun langsung bergerak mengunjungi tempat lawatan berikutnya.
Tempat ketujuh yang kami kunjungi adalah Masjid As Sua'ada yang terletak di Desa Wasah Hilir Kecamatan Simpur, atau sekitar 10 Km dari Makam Tumpang Talu. Masih bersama Drs H A Gazali Usman, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kandangan, di Masjid As Su'ada tersebut kami dijelaskan berbagai hal. Mulai dari sejarah pembangunan, hingga siapa saja yang terlibat dalam pembangunan masjid tersebut.
Pertama kali, Gazali menjelaskan bahwa ide mendirikan masjid tersebut dipelopori oleh Syekh H Abbas dengan pimpinan pelaksana Syekh H Muhammad Said bin H Sa'dudin pada tahun 1908 Masehi atau sekitar tahun 1328 Hijriah.
Menariknya, arsitektur masjid tersebut mempunyai makna tersendiri. Dikatakan Gazali, tiang utama masjid tersebut memiliki panjang sekitar 27 meter yang mana angka 27-nya itu merupakan symbol diawalinya salat wajib pada 27 Rajab.
Kemudian, bubungan atau atap yang dibangun tiga tingkat juga mempunyai makna tiga tingkatan ilmu agama. Tingkatan pertama adalah Syariat, tingkatan kedua Tarikat, sementara tingkatan ketiga adalah Ma'rifat. Sedangkan bagian paling atas yang biasa disebut Patala, merupakan tingkat kesempurnaan setelah Ma'rifat.
Menganai nama masjidnya sendiri, Gazali menceritakan bahwa nama tersebut diambil dari nama salah seorang pendirinya, yakni H Muhammad Said.
"Said (Syekh H Muhammad Said) berasal dari bahasa Arab yang artinya beruntung. Kata Said berubah menjadi Sa'ada, dan akhirnya menjadi Su'ada sebagaimana nama masjid ini sekarang," jelas Gazali.
Ditambahkan Gazali, ada beberapa kejadian di luar logika ketika pembangunan masjid tersebut. Diantaranya, ketika musyawarah hendak membangun masjid dilaksanakan di rumah H Abbas, seluruh peserta musyawarah sempat dikejutkan dengan angin topan. Parahnya, angina topan tersebut hamper saja merobohkan sebuah pohon besar kea rah rumah H Abbas temapt dilaksanakannya musyawarah. Untungnya, dengan keyakinan penuh Syekh H Muhammad Said yang juga turut mengikuti musyawarah berhasil mendorong pohon itu dan membuat angina berpindah arah, hingga pohon besar tadi pun jatuh ke tempat lain.
"Keanehan lainnya terjadi ketika rombongan Syekh H Muhammad Said mengangkut bahan bangunan. Ketika itu, di pertengahan Desa Kalumpang dengan Nagara, rombongan kehabisan lauk untuk makan. Namun tiba-tiba saja, seekor ikan melompat ke perahu yang digunakan oleh rombongan Syekh H Muhammad Said. Hingga rombongan pun tak jadi kehabisan lauk untuk makan," kata Gazali.
Puas mengdengarkan penjelasan mengenai Masjid As Su'ada, saya, peserta, dan panitia Laseda Kalsel gelaran Disbudpar Kalsel dan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak pun bersiap melanjutkan perjalanan. Semula kami ingin ke Benteng Gunung Madang terlebih dahulu, namun karena saat itu sedang digunakan TNI AD untuk latihan menembak, lawatan pun kami seling dulu ke Tugu Bersejarah 17 Mei 1949, yakni tugu yang terletak di Desa Niih (Hulu Banyu) Kecamatan Loksado.
Tugu tersebut merupakan bukti sejarah telah dikumandangkannya sebuah proklamasi yang dikenal dengan nama Proklamasi 17 Mei yang menyatakan bahwa daerah Kalimantan merupakan suatu daerah yang tidak terpisahkan dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Medan yang ditempuh untuk ke tugu tersebut lumayan berat. Meski jalannya cukup lebar dan beraspal, namun tak semua kendaraan roda empat bisa melewatinya. Karena, jalan yang dilalui merupakan jalan yang terkadang mendaki terkadang menurun curam. Alhasil, tak semua peserta lawatan bisa mengikutinya, karena hanya satu bus yang bisa digunakan untuk naik. Sementara bus yang satunya tak sanggup untuk melalui medan tersebut.
Setelah beberapa jam di Bersejarah 17 Mei 1949 dengan lingkungan alam yang asri, berupa pepohonan rindang dan air pegunungan yang mengalir deras, sekira pukul 14.00 Wita, kami kembali melanjutkan perjalan menuju Benteng Gunung Madang yang terletak di desa Madang Kecamatan Padang Batung.
Ketika kami sampai di kawasan tersebut, masih mendengar suara dentuman senjata TNI AD yang melakukan latihan. Setelah setengah jam kemudian, barulah suara itu sepi dan peserta lawatan diizinkan untuk naik ke benteng.
Sayangnya, karena medan menuju benteng tersebut juga sulit untuk dilalui, maka sebagian peserta hanya menunggu di bawah saja, atau sekutar 500 meter dari benteng. Parahnya, mobil yang bisa digunakan hanya mobil sekelas Kijang atau Carry saja, sementara bus tak bisa melewatinya. Alhasil, hanya sedikit peserta yang bisa naik ke benteng tersebut.
Usai melewati perjalanan sekitar 500 meter dengan menggunakan mobil, saya dan beberapa peserta lain yang ikut naik ke benteng mengira langsung sampai di tempat tujuan. Ternyata tidak, untuk sampai ke benteng kami ternyata harus mendaki ratusan anak tangga lagi terlebih dahulu.
Alhasil, Mayang, siswi SMA Negeri 6 Banjarmasin yang sebelumnya saya ajak berjalan kaki saja dari bawah, langsung mengejek saya. "Cuma 500 Meter saja, deket kok, heh," katanya penuh ejek.
Tak kurang 440 anak tangga kami lewati, setelah sampai di atas, ternyata tak ada bangunan tua pun yang kami jumpai di sana. "Benteng ini merupakan benteng penyerangan Pasukan Hidayat dan Demang Lehman ketika menghadapi serdadu belanda. Karena ini bukan benteng pertahanan, jadinya tak ada bangunan pertahanan pun di sini," jelas Drs H A Gazali Usman yang masih mendampingi kami.
Setelah puas mendengarkan penjelasan, sekira pukul 17.00 Wita, kami pun bersiap kembali ke hotel untuk beristirahat dan mempersiapkan diri mengikuti serangkaian kegiatan besok harinya, yang merupakan hari terakhir lawatan sejarah yang kami lakukan. (habis)




























0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda