Selasa, 01 Juli 2008

Mengikuti Laseda Kalsel 2006 (5-bersambung)

Kalau melihat areal pemakaman yang masing-masing liang hanya diisi dengan satu jenazah, tentu hal biasa. Tapi, kalau dalam satu liang ada tiga jenazah sekaligus? Tentunya akan menjadi hal yang tidak biasa. Pertanyaannya, mengapa dimakamkan langsung tiga, tidak satu-satu?


AZAN Subuh menggema merdu dari masjid besar yang berada tak begitu jauh dari hotel tempat kami (saya dan peserta Lawatan Sejarah Daerah Kalsel, red) menginap.
Tanpa ba..bi..bu lagi, kami pun langsung beranjak dari tempat tidur lalu segera membersihkan diri dan berangkat ke masjid tersebut untuk melaksanakan Salat Subuh berjamaah.
Usai salat, sedikit melemaskan badan setelah melalui perjalanan panjang sekaligus hendak melihat bagaimana Kota Kandangan, kami pun jalan-jalan mengitari seputaran pusat Kota Kandangan, mulai dari pasar, hingga terminal yang memang juga tak begitu jauh dari Hotel Bangkau dan Loksado Permai, tempat kami menginap.
Sekira pukul 07.30 Wita, kami disuguhi sedikit makan pagi di hotel untuk bekal kami melanjutkan perjalanan di hari kedua lawatan kami (6/7). Tempat pertama yang kami kunjungi di hari kedua lawatan kami tersebut adalah Makam Tumpang Talu, yang terletak di Kampung Parincahan Kandangan, sekitar 2 Kilometer dari pusat Kota.
Mendengar nama makamnya sendiri, bagi kita orang Banjar, tentu dapat memahami bahwa di makam tersebut terdapat tiga jenazah sekaligus dalam satu liang.
Drs H A Gazali Usman, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kandangan menjelaskan, makam tersebut adalah makam Buchori, Landuk, dan Matamin, tiga pejuang Kalsel yang gugur pada persitiwa pemberontakkan Amuk Hantarukung tanggal 19 September 1899. Gazali menceritakan, Buchori yang terlahir dan besar di Puruk Cahu adalah orang kepercayaan Sultan Muhammad Seman, Putera Pangeran Antasari. Pada 1899, Buchori yang dikenal sebagai orang yang memiliki kesaktian dan kekebalan, diutus ke Hulu Sungai Selatan dan bertugas di Amandit. Ketika itu, Buchori menemui Pangeran Yu Ya yang memerintah kawasan Amandit untuk menghimpun kekuatan.
Di bawah prakarsa Buchori, sebagian warga yang sebelumnya dipaksa Kolonial Belanda untuk mengerjakan galian Amandit–Nagara, langsung melakukan perlawanan. Mereka tak lagi bersedia mengerjakan galian. Sayangnya, ulah Buchori yang berhasil mengkoordinir warga tersebut diketahui Kolonial Belanda.
Tanggal 18 September 1899, Belanda yang langsung dituruni Tuan Controler Domes dan Adapirant Wehonleshen mendatangi Pangeran Yu Ya untuk membunuhnya. Beruntung, ketika itu Buchori dan pasukannya datang. Dengan mengucap shalawat Nabi, Buchori dan pasukannya berhasil memukul mundur Kolonial Belanda, hingga Tuan Controler Domes dan Adapirant Wehonleshen serta seorang anak emasnya pun tewas terbunuh.
Melihat pimpinannya terbunuh, warga Hantarukung yang ikut Kolonial Belanda melakukan serangan balik pada 19 September 1899. Mereka mengamuk dan melakukan serangan besar-besaran. Pasukan Buchori yang hanya menggunakan senjata tradisional seperti parang, tombak, dan serapang tak berhasil membendung serangan Belanda yang menggunakan senjata api.
Hingga pada akhirnya, Buchori, Landuk, dan Matamin yang berada di barisan depan pun tewas terbunuh. Tak hanya itu, 23 pasukan Buchori lainnya berhasil ditangkap Belanda. Sembilan dari 23 pasukan itu tewas digantung, empat meninggal di penjara, sementara lainnya dibuang oleh Belanda.
“Semua yang tewas itu dimakamkan di beberapa tempat. Buchori, Landuk, dan Matamin di Desa Parincahan ini, yang lainnya ada di Pemakaman Bawah Tandu, Telapak Gajah, dan Amuk Hantarukung di Desa Hantarukung,” jelas Gazali.
Ditanya mengapa Buchori, Landuk, dan Matamin dimakamkan langsung dalam satu liang, secara historis kata Gazali memang tak pernah diceritakan. Namun, dari segi logika, ketika itu warga masih diselimuti dengan ketakutan terhadap kolonial Belanda, sehingga agar mempercepat proses pemakaman supaya tak diketahui Belanda, maka dimakamkanlah tiga sekaligus.
Usai mendengarkan penjelasan segala hal yang berkaitan dengan Makam Tumpang Talu, atas permintaan salah seorang guru yang juga peserta Laseda Kalsel 2006, lawatan dilanjutkan ke Pemakaman Amuk Hantarukung di Desa Hantarukung.
Setalah itu, barulah Laseda Kalsel gelaran Disbudpar Kalsel dan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak yang diikuti perwakilan siswa-siswi dan guru sejarah di SMA/SMK se-Kota Banjarmasin, seperti SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3, SMAN 5, SMAN 6, SMAN 7 Plus, SMKN 1, dan SMKN 3 Banjarmasin, kembali mengikuti jadwal lawatan yang mengunjungi Masjid As Su’ada Desa Wasah Hilir, Benteng Gunung Madang, dan Tugu Bersejarah 17 Mei 1949. (bersambung)

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda