Selasa, 01 Juli 2008

Mengikuti Laseda Kalsel 2006 (4)

Di Desa Banua Halat Kiri Kecamatan Tapin Utara yang berjarak sekitar 2 Kilometer ke arah barat dari Kota Rantau, sebuah masjid tua bernama Masjid Al Mukarromah berdiri dengan kokohnya. Nah, masjid yang kabarnya berdiri sejak zaman penjajahan Belanda itulah yang menjadi menjadi lokasi keempat yang dikunjungi peserta Lawatan Sejarah Daerah Kalsel 2006 gelaran Disbudpar Kalsel dan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak.



PERJALANAN Menuju Masjid Al Mukarromah tersebut merupakan perjalanan yang sangat melelahkan. Betapa tidak, dari tempat kunjungan ketiga, yakni Pandulangan Intan di Desa Pumpung Banjarbaru, perjalanan menuju masjid tersebut berjarak sekitar 90 Kilometer. Tak heran, peserta yang tadinya melek pun, berubah menjadi banyak yang ketiduran. Tak terkecuali saya sendiri yang duduk disamping Pak Sopir.
Perjalanan semakin melelahkan, karena ketika menuju masjid tersebut, kedua bus yang kami gunakan sempat bolak-balik lantaran tak tahu persis dimana Masjid Al Mukarromah tersebut. Setelah tanya sana, tanya sini kepada masyarakat sekitar, akhirnya kami tiba di tempat tujuan dengan selamat, meski sedikit molor dari waktu yang ditetapkan.
Di Masjid Al Mukarromah tersebut, kami disambut hangat pihak Dinas Pendidikan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tapin, serta pengelola masjid dan masyarakat sekitar.
Setelah cuci kaki, wudhu, lalu melaksanakan Salat Ashar, seluruh peserta pun diberi arahan dan penjelasan mengenai sejarah Masjid Al Mukarromah tersebut. Saya yang tak ingin ketinggalan informasi turut berbaur dengan peserta yang merupakan perwakilan siswa-siswi dan guru sejarah di SMA/SMK se-Kota Banjarmasin, seperti SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3, SMAN 5, SMAN 6, SMAN 7 Plus, SMKN 1, dan SMKN 3 Banjarmasin. Oleh Drs H A Gazali Usman, salah seorang pengelola masjid yang dulunya juga tercatat sebagai salah seorang dosen di Unlam Banjarmasin, seluruh yang berada di ruang induk masjid dengan arsitektur khas tradisional Kalimantan itu dijelaskan bahwa bangunan masjid yang ada sekarang merupakan hasil pembangunan kembali.
Dulunya, di lokasi pembangunan masjid tersebut memang ada sebuah masjid. Namun, masjid tersebut hangus terbakar setelah diserang tentara Belanda pada masa Perang Banjar di tahun 1962.
Dijelaskan Gazali, serangan tersebut merupakan serangan balasan tentara Belanda, atas penyerbuan pasukan Banua Ampat/ Muning yang dipimpin Pangeran Antasari ke Benteng Tambang Batubara Oranje Nassau di Pengaron pada tahun 1859.
“Ketika itu, seluruh bagian masjid hangus terbakar, terkecuali sebuah tiang yang masih utuh dan dikeramatkan hingga sekarang. Coba lihat tiang di sebelah sana, ada bekas terbakarnya khan?,” tanya Gazali kepada peserta sembari menunjuk sebuah tiang yang ada di sebelah kiri belakangnya.
Mengenai pembangunan kembalinya, Gazali memperkirakan pembangunan tersebut dilaksanakan pada tahun 1331 H atau tahun 1910 M. Perkiraan itu dikatakan Gazali berdasarkan inskripsi berhuruf Arab Melayu yang dipahatkan pada tiang-tiang utama (Soko Guru) dan tiang-tiang penunjang. Di tiang-tiang tersebut terdapat angka tahun dan nama-nama penyumbangnya.
Pada pembangunan tahap pertama pada tahun 1910 tersebut, dijelaskan bahwa Masjid Al Mukarromah dibangun dengan kontruksi panggung berlantaikan kayu jati. Setelah itu, pada tahun 1935, lantainya direnovasi lagi dengan ubin berhias. “Keterangan itu diperoleh dari iskripsi yang terdapat pada salah satu tiang utama yang berbunyi melantai pada tanggal 28-4-35,” jelas Gazali.
Keunikkan masjid ini terlihat pada saat bulan Maulid, tepatnya pada 12 Rabiul Awal yang merupakan tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tanggal tersebut, masyarakat Kalsel berbondong-bondong melaksanakan Ayun Maulid dengan harapan anak yang mereka ayun mendapat syafaat Nabi Muhammad SAW, dan menjadi anak yang shaleh serta berbakti kepada kedua orangtua. Menariknya, yang me-ayun anak pada pelaksanaan Ayun Maulid itu bukan hanya dari masyarakat kawasan masjid, melainkan ada yang sengaja datang dari luar kota.
“Kami juga tidak mengetahui persis mengapa masjid ini dijadikan pusat untuk pelaksanaan acara Ma-ayun Anak. Yang pasti dulunya, di sekitar masjid ini, masyarakat sering melaksanakan acara Ma-ayun Anak dengan berbagai persembahan untuk bidan. Karena tidak ada unsur islami, oleh para ulama saat itu, acara Ma-ayun Anak di arakan ke masjid dengan maksud agar anak mengenal masjid sejak dini, sekaligus mengenal hari kelahiran Nabi Muhammad SAW,” papar Gazali.
Sementara itu, Citra Auliani siswi SMA Negeri 7 Plus Banjarmasin, mengaku senang bisa berkunjung ke masjid tersebut. “Arsitektur masjid ini unik dan jarang sekali ditemui di Banjarmasin. Ternyata di Kalsel banyak sekali tempat wisata yang cukup menarik untuk dikunjungi. Oleh karenanya, saya pesankan kepada seluruh pelajar atau siapa saja, dari pada kunjungan wisata ke luar daerah, mendingan ngunjungin yang ada di daerah sendiri dulu. Karena ya itu tadi, di daerah kita ternyata juga banyak tempat wisara yang menarik untuk dikunjungi,” tandas cewek berkaca mata minus itu.
Usai mendengar penjelasan serta menikmati sedikit suguhan kue khas Banjar, saya, panitia, dan seluruh peserta pun bersiap meninggalkan masjid untuk selanjutnya berisitrahat di Hotel Bangkau Kandangan yang berjarak sekitar 25 Kilometer dari Masjid Al Mukarromah, Rantau.
Tanpa basa-basi, setelah tiba di Hotel Bangkau sekitar pukul 19.00 Wita, seluruh peserta yang sebelumnya menunaikan Salat Magrib dan Isya pun langsung beristirahat guna mempersiapkan diri melanjutkan lawatan ke beberapa tempat bersejarah lainnya, setelah pagi menjelang. (bersambung)

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda