Selasa, 01 Juli 2008

Mengikuti Laseda Kalsel 2006 (3-bersambung)

Terik matahari yang menyengat tak menyurutkan keinginan peserta Laseda Kalsel untuk tetap melanjutkan perjalanan. Dengan semangat menggebu, mereka memasuki bus yang selanjutnya membawa mereka ke lokasi pendulangan intan di Desa Pumpung, Banjarbaru yang berjarak sekitar 15 Km dari Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru. Apa saja yang dilakukan peserta Laseda di lokasi pendulangan tersebut, berikut ceritanya!


RABU Siang (5/7), sekira pukul 13.30 Wita. Seusai melihat-lihat koleksi benda bersejarah, lalu makan siang, dan Salat Zuhur di kawasan Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru, peserta Laseda Kalsel berangkat menuju lokasi pendulangan intan di Desa Pumpung Banjarbaru.
Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang, dua bus rombongan peserta pun akhirnya tiba di lokasi pendulangan. Tanpa dikomando, para peserta langsung turun dari bus dan langsung berhamburan menyaksikan aktifitas para pendulang intan. Ada yang menyaksikan para pendulang yang menggunakan mesin, namun tak sedikit pula peserta yang memilih hanya menyaksikan aktifitas para pendulang intan yang menggunakan peralatan tradisional.
Satu pemandangan unik namun menyedihkan. Unik karena pemandangan itu memang langka dan tak bisa dilihat di daerah lain, terkecuali di lokasi pendulangan. Namun menyedihkan, karena aktifitas para pendulang intan yang menggunakan mesin, bisa dikatakan sebagai aktifitas yang merusak alam.
Betapa tidak, untuk mendapatkan “si galuh” nan berkilau, para pendulang intan itu, mencarinya hingga ke dasar tanah yang terdalam. Tanpa segan mereka membuat galian dengan mesin hingga kawasan pendulangan intan itu menjadi kawah besar yang dalamnya berpuluh-puluh meter.

“Jujur saja, perasaan saya campur aduk ketika mengunjungi lokasi pendulangan intan itu. Di satu sisi, saya merasa kagum dengan anugrah Allah SWT yang menyediakan berbagai kemewahan dari alam hingga manusia bisa menikmatinya. Di sisi lain, saya sedih, karena untuk mendapatkan anugrah yang diberikan Allah itu, manusia tak segan-segan merusak alam,” ujar Rendy Hidayat, salah seorang siswa SMA Negeri 1 Banjarmasin.
Mendulang intan dengan menggunakan mesin, memang lebih menguntungkan ketimbang menggunakan peralatan tradisional. Namun, kalau dinilai dari segi keunikan, tentu cara bekerja dengan menggunakan peralatan tradisional-lah yang paling unik. Lagi pula, cara tradisional tak terlalu merusak alam.
Menariknya, ada beberapa ritual khusus yang sering kali dilakukan oleh pendulang intan dengan peralatan tradisional tersebut. Biasanya, sebelum berangkat bekerja dan mulai menggali, mereka menggelar selamatan.
Kemudian, untuk menentukan kawasan mana yang akan mereka dulang, kebiasaan para pendulang intan menanyakannya terlebih dahulu kepada “orang pintar” atau ulama yang memang dianggap mampu mendeteksi keberadaan “si Galuh” (sebutan orang Banjar terhadap intan, red).
Hal menarik lainnya, ketika intan didapatkan, intan tersebut langsung dimasukkan ke dalam mulut lalu diisap atau “dikucup”. Ada yang mengatakan, hal itu sengaja dilakukan agar intan yang sudah didapatkan tidak lenyap begitu saja. Karena, sebagian masyarakat pendulang intan mempercayai bahwa intan sangat erat dengan alam gaib. Sehingga, kalau tidak “dikucup” terlebih dahulu ketika didapatkan, intan tersebut bisa lenyap karena diambil kembali oleh makhluk alam gaib.
Sekadar diketahui, aktifitas para pendulang intan di kawasan Desa Pumpung Kecamatan Cempaka Banjarbaru itu sudah berlangsung sejak puluhan tahun bahkan ratusan tahun lalu. Pada tahun 1960, di kawasan tersebut pernah digunakan peralatan dari luar negeri. Namun, asilnya tak memuaskan. Dan para pendulang intan pun kembali memilih cara tradisional. Alasannya, cara tradisional lebih membuahkan hasil. Karena menurut kepercayaan para pendulang intan yang menggunakan cara traidisonal, intan intan atau “si galuh” itu baru bisa didapatkan apabila pendulangnya ikhlas dan bekerja dengan lembut. “Galuh itu perlu dielus dan dimanja,” ujar Suriansyah, salah seorang pendulang yang sudah menggeluti pekerjaannya selama 35 tahun.
Diceritakan Suriansyah, sekitar sepuluh tahun lalu, ia pernah mendapatkan intan seukuran batu kerikil. Dari hasil penjualan intan itu, Suriansyah pun berhasil meraup uang tunai sampai Rp19 juta.
“Itu intan terbesar yang pernah saya dapatkan. Selebihnya, saya hanya mendapatkan yang kecil-kecil yang jualannya sekitar satu atau dua juta saja. Tak jarang, saya pun hanya mendapatkan intan lantakan (intan berukuran sangat kecil yang biasanya digunakan untuk susuk, red) yang harganya sangat murah. Ya, hanya puluhan ribu Rupiah saja lah,” ujar pria berusia 45 tahun itu.
Puas melihat langsung proses pendulangan intan, peserta pun bersiap kembali memasuki bus untuk melanjutkan perjalanan menuju tempat ke empat, yakni Masjid Al Karomah di kawasan Rantau. Tapi sebelum itu, peserta terlebih dahulu membeli berbagai batu-batuan nan cantik yang ditawarkan oleh warga pendulangan. Ada yang membeli batu kecubung nan bening, ada yang membeli batu akik dengan harga yang sangat murah, namun ada pula yang sekedar lihat-lihat saja. (bersambung)

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda