Selasa, 01 Juli 2008

Mengikuti Laseda Kalsel 2006 (2-bersambung)

Setelah kurang lebih satu jam melihat dan mendengarkan penjelasan berbagai benda bersejarah di Museum Wasaka Banjarmasin, peserta Laseda Kalsel langsung menuju Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru. Apa saja yang dilihat di sana?


KOTA Banjarbaru merupakan kota kedua dari empat kota yang dikunjungi peserta Lawatan Sejarah Daerah (Laseda) Kalsel. Di Kota Banjarbaru tersebut, seluruh peserta yang merupakan perwakilan dari beberapa SMA/SMK di Banjarmasin, yakni SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3, SMAN 5, SMAN 6, SMAN 7 Banjarmasin, SMKN 1, dan SMKN 3 itu terlebih dahulu mengunjungi Museum Lambung Mangkurat Banjarmasin yang terletak di Jalan A Yani KM 36 Banjarbaru.
Menggunakan dua buah bus berukuran sedang dengan kapasitas masing-masing kurang lebih 30 orang, para peserta yang menggunakan kaos biru kehijauan berlengan panjang plus topi berwarna kuning tersebut, tampak menikmati perjalanan meski jarak menuju Museum Lambung Mangkurat mencapai 40 km dari Museum Wasaka Banjarmasin.
Tiba di Museum Lambung Mangkurat yang berdiri kokoh dan megah dengan atap berwarna merah, di atas tanah seluas 1,5 hektare itu, para peserta Laseda Kalsel yang merupakan program gelaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalsel bersama Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak tersebut, disambut hangat pengelola museum. Oleh pengelola museum itu, seluruh peserta dipersilakan dengan bebas untuk melihat koleksi yang ada di ruangan mana saja. Baik yang di lantai atas maupun di lantai bawah.
Bagi peserta yang naik ke lantai atas, mereka dapat melihat berbagai koleksi yang berkaitan dengan kebudayaan dan kerajinan khas Banjar. Ya, di lantai atas tersebut, terpampang berbagai perabot rumah tangga yang sering digunakan masyarakat Banjar, kemudian pakaian adat, peralatan upacara-upacara adat Banjar seperti peralatan Mandi Baya, Baayun Anak, Ma-atar Patalian dan sebagainya. Selain itu, juga ada berbagai jenis bebatuan, alat tenun, alat kerajinan, alat membuat gula merah, alat pertanian ladang berpindah, peralatan pandai besi dan banyak pula yang lainnya. Yang paling menarik, di lantai atas tersebut juga ada ruangan khusus yang menyimpan berbagai koleksi berkaitan dengan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Salah satunya adalah Al Qur'an yang dibuat langsung dengan tulisan tangan Ulama kharismatik yang dikenal juga sebagai Datu Pelampaian itu.

Sementara bagi peserta yang masuk ke lantai bawah, mereka dapat melihat berbagai hal yang berkaitan dengan sejarah dan peninggalan kuno. Di ruang bawah tersebut, peserta dapat melihat Maket Candi Prambanan, Posil Ikan paus yang ditemukan di Desa Tanjung Kunyit Pulau Laut Barat Kotabaru, Maket candi Borubudur. Kemudian ruang arkeologi yang di dalamnya terdapat beberapa peninggalan Candi Agung dan Laras, serta koleksi lainnya.
Koleksi lain yang ada di lantai bawah itu adalah berbagai lukisan yang menggambarkan perjuangan rakyat Kalsel dan lukisan dengan gambar pahlawan Kalsel seperti Pangeran Hidayatullah, Pengeran Antasari, Demang Lehman dan sebagainya. Kemudian juga ada silsilah kerajaan, keramik temuan, peninggalan Kerajaan Pagatan Berupa keris, tongkat, kursi, ranjang, lemari dan sebagainya.
Lalu ada pula koleksi uang lama mulai tahun 1945 hingga 2005, serta berbagai senjata bersejarah. Salah satunya adalah Sungga yang merupakan senjata perang Banjar di daerah Benteng Gunung Madang, Kandangan HSS.
Sungga adalah sebuah senjata dari baja dengan ujung yang lancip, yang diletakkan di air di bawah sebuah jembatan kecil. Sungga sengaja diletakan di bawah jembatan sebagai perangkap. Apabila ada musuh yang menaiki jembatan tersebut, maka jembatan langsung runtuh, dan musuh pun langsung terjatuh dan tertancap di Sungga yang ada di bawah jembatan tadi.
"Museum Lambung Mangkurat ini resmi dibuka pada hari Rabu, 10 Januari 1979 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI yang waktu itu dijabat DR Daoed Yoesoef. Kalau menurut ketentuan yang sudah ditetapkan, klasifikasi koleksi museum ini terdiri dari 10 jenis koleksi, yakni Geologika, Biologika, Etnografika, Arkeologika, Historika, Numimatika/ Heraldika, Filologika, Keramalogika/ Keramik, Koleksi Seni Rupa, serta Teknologika. Sesuai dengan jenis koleksinya, maka museum ini termasuk jenis museum umum," jelas Nasir, salah seorang pengelola museum kepada seluruh peserta.
Setelah puas melihat isi ruang induk museum di lantai atas dan bawah, peserta kemudian diajak untuk melihat koleksi lain yang ada di gedung tambahan di barisan sebelah kanan gedung induk. Di gedung/ruang tambahan itu, peserta bisa melihat koleksi lain berupa lukisan karya Gusti Sholihin, Keramik, Kain Nusantara, serta yang lainnya.
Di salah satu ruang tambahan itu, peserta juga dijelaskan mengenai cara mendulang intan yang banyak dilakoni masyarakat Kalsel saat ini.
Secara ringkas, Nasir menjelaskan pendulangan secara tradisional biasanya dilakukan masyarakat dengan menggali tanah yang diyakini ada intannya untuk diangkut ke "Lambakkan". Setelah itu, tanah kemudian dimasukkan ke "Lumpangan" lalu diayak untuk memisahkan batu-batu yang besar dengan pasir dan batu yang kecil. Hasil ayakan, pasir dan batu-batu kecil tadi kemudian dimasukkan ke dalam "Linggangan" untuk disisihkan lagi, hingga didapatkan serbuk-serbuk emas, serta intan "si Galuh" yang dicari-cari, jika memang beruntung.
Usai mendengarkan penjelasan dan sedikit diskusi, lawatan di Museum Lambung Mangkurat itu pun diakhiri. Guna mengetahui lebih jelas mengenai pendulangan intan, peserta pun dengan tertib kembali memasuki bus untuk selanjutnya menuju tempat Pandulangan Intan di Desa Pumpung Banjarbaru yang jaraknya kurang lebih 15 km dari Museum Lambung Mangkurat. (juga diterbitkan di Harian Pagi Radar Banjarmasin/ bersambung...)

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda