Selasa, 01 Juli 2008

Mengikuti Laseda Kalsel (1-bersambung)

Pada 5 hingga 7 Juli 2006 lalu, saya mengikuti Lawatan Sejarah Daerah Kalimantan Selatan 2006 yang dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Kalsel dan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak.
Ini sedikit oleh-oleh cerita dari Lawatan Sejarah yang saya ikuti tersebut. Semoga bermanfaat, paling tidak untuk menambah wawasan. Saya bikin tulisan ini bersambung hingga enam seri. Selamat menikmati...


Di tepian sungai, berdampingan dengan kokohnya sebuah jembatan yang panjang lagi besar, sebuah bangunan dengan arsitektur khas Banjar berdiri di tengah rimbun dan lebatnya pepohonan.


BEGITULAH Kiranya gambaran Museum Waja Sampai Kaputing (Wasaka) yang terletak di tepian Sungai Martapura, di Jalan Sultan Adam Komplek H Andir, Kampung Kenanga Ulu RT 14 Kelurahan Sungai Jingah, Kecamatan Banjarmasin Utara, Banjarmasin, yang menjadi tempat pertama kunjungan Lawatan Sejarah Daerah kami.
Di museum yang diresmikan pada 10 November 1991 tersebut, para peserta yang terdiri dari perwakilan masing-masing lima siswa dan satu guru sejarah di SMAN 1 Banjarmasin, SMAN 2 Banjarmasin, SMAN 3 Banjarmasin, SMAN 1 Banjarmasin, SMAN 5 Banjarmasin, SMAN 6 Banjarmasin, SMAN 7 Banjarmasin, SMKN 1 Banjarmasin, serta SMKN 3 Banjarmasin, disambut H Syarifuddin, Ketua Bidang Pengelola Museum Wasaka.
Oleh Syarifuddin, seluruh peserta dijelaskan mengenai semua yang ada dalam museum. Lebih khusus mengenai benda-benda peninggalan para pejuang atau pahlawan daerah Kalimantan Selatan pada masa revolusi fisik tahun 1945-1949 yang pernah digunakan sewaktu menghadapi atau melawan pemerintah kolonial Belanda. Seperti berbagai jenis senjata yang digunakan. Baik itu berupa tombak, mandau, senapan, mortir, maupun yang lainnya.
Ketika kita berkunjung ke museum tersebut, setelah naik tangga dan memasuki pintu, kita terlebih dahulu akan disambut dengan sebuah meja beserta empat buah kursi yang konon dulunya digunakan sebagai tempat pejuang Kalsel untuk bermusyawarah. Di dinding di sekeliling kursi tersebut, kita bisa melihat deretan foto gubernur, mulai dari gubernur yang paling pertama, hingga yang terakhir.

Kalau kita masuk ke ruangan melalui jalur sebelah kiri, maka kita bakal dihadapkan dengan Teks Proklamasi Kemerdekaan RI, daftar organisasi yang pernah berjuang menentang pemerintahan penjajah seperti Lasykar Hasbullah yang bermarkas di Martapura, Barisan Pemuda Republik Indonesia Kalimantan yang bermarkas di Banjarmasin, serta yang lainnya. Berseberangan dengan itu, ada peta Kalimantan Selatan yang dilengkapi dengan bebera foto masyarakat adat di daerah masing-masing.
Lebih ke dalam lagi, kita akan menemui struktur organisasi perjuangan gerilya Kalsel menuju Pemerintahan Gubernur Tentara ALRI, benda-benda bersejarah lain seperti mesin tik kuno, kamera, cermin, dan sebagainya. Selain itu, di museum tersebut juga ada berbagai benda bersejarah lain, salah satunya sepeda kuno yang katanya sewaktu jaman penjajahan dulu, digunakan untuk mengirimkan surat dengan memasukkan surat tersebut ke dalam badan sepeda agar tidak ketahuan kolonial Belanda. Dan seperti yang disebutkan di atas, di museum tersebut juga terpampang berbagai jenis senjata yang pernah dipergunakan untuk melawan kolonial Belanda.
"Dalam museum ini, terdapat kurang lebih 400 benda bersejarah. Sebetulnya, kami memiliki banyak koleksi lainnya. Mulai dari periode Perang Banjar, Perintis Kemerdekaan, Perang Kemerdekaan, Pengisian Kemerdekaan, hingga periode Orde Baru. Namun, karena tempatnya tidak memadai, terpaksa yang kami tampilkan hanya koleksi benda-benda di periode Perang Kemerdekaan saja," ujar Syarifuddin kepada saya.
Ditambahkan beliau, bangunan Museum Wasaka yang ada sekarang sebetulnya tak layak disebut sebagai museum, melainkan hanya sebatas ruang pameran saja. Karena katanya, bangunan yang ada sekarang sangat sempit dan sangat tidak lengkap.
"Seharusnya, sebuah museum itu juga memiliki gudang koleksi, ruang penataan, auditorium, ruang penelitian, dan kamar diskusi. Nah, sementara ini, gedung kita ini hanya untuk memajang benda-bendanya saja. Sehingga saya pikir, ini lebih pantas disebut sebagai ruang pameran saja. Untuk itu, saya harapkan dari pemerintah, agar segera merenovasi Museum Wasaka itu agar menjadi sebuah tempat yang benar-benar layak di sebut sebagai museum," kata beliau.
Sementara itu, Dewi siswi SMA Negeri 5 Banjarmasin yang menjadi salah satu peserta Lawatan Sejarah Daerah Kalimantan, mengaku senang bisa mengunjungi museum tersebut. "Saya senang sekali. Karena di museum ini, saya bisa melihat benda-benda bersejarah, sekaligus bisa menambah pengetahuan saya. Harapan saya, semoga benda-benda bersejarah yang terdapat di museum ini terus dipelihara dan dirawat dengan baik," ujarnya.
Sekadar diketahui, selain mengunjungi Museum Wasaka, Lawatan Sejarah Daerah Kalimantan Selatan ini juga mengunjungi beberapa tempat lainnya seperti Museum Lambung Mangkurat Banjarabaru dan Pendulangan Intan di Desa Pampang Banjarbaru, Masjid Al Mukaromah Rantau, Makam Tumpang Talu Kandangan, Masjid Su'ada Wasah Hilir Kandangan, Benteng Gunung Madang Kandangan, serta Tugu Bersejarah 17 Mei 1949 yang juga ada di Kandangan.
Nah, untuk mengetahui cerita lengkap mengenai tempat-tempat di atas, simak terus lanjutan cerita ini hingga beberapa tulisan berikutnya. (bersambung...)

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda