Selasa, 01 Juli 2008

Ngomongin Ayat-Ayat Cinta bersama Hanung Bramantyo

Mengikuti kesuksesan novelnya, pemutaran film Ayat-Ayat Cinta yang digarap sutradara muda Hanung Bramantyo juga meledak di pasaran. Pecinta-pecinta film memuji keluarbiasaan karya Hanung tersebut. Tapi oleh sebagian besar pembaca novel Ayat-Ayat Cinta, film yang digarap Hanung dianggap membuat kecewa karena lepas dari konsep aslinya. Apa komentar Hanung? Berikut tulisan saya…


JUMAT malam (14/3) lalu ketika mengikuti perjalanan Lihan, pengusaha muda asal Cindai Alus Martapura ke Jakarta, saya berkesempatan bertemu, bertatap muka, dan ngobrol langsung dengan sang sutradara film Ayat-Ayat Cinta, Hanung Bramantyo. Hanung bertandang ke hotel tempat kami menginap, lalu oleh Lihan, Hanung diajak ngobrol di kamar saya, kamar 1018 Crowne Plaza Hotel Jakarta. Kala itu, ikut pula penyanyi religius, Opick, bersama istri tercintanya.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang tersedia, usai Hanung, Opick, dan Lihan membicarakan rencana pembuatan film "Sunan Kalijaga" mereka, saya membuka pembicaraan soal film Ayat-Ayat Cinta kepada Hanung.
Pukul 23.30 Wib, sambil berjalan dari kamar menuju lobby Crowne Plaza Hotel untuk selanjutnya Hanung dan Opick meninggalkan hotel, saya ungkapkan mengenai perbedaan-perbedaan antara kisah di film yang digarap Hanung, dengan kisah di novel aslinya buatan Habiburrahman.
Dalam novelnya kata saya, Habibburahman menceritakan bahwa Maria didampingi komplit keluarganya. Ada Yousef adiknya, ada Tuan Boutros Rafael Girgis sang ayah, juga ada ibunya. Mengapa di film hanya dikisahkan Maria dan ibunya saja?
Lalu, ketika Fahri di penjara, di novel Habiburrahman diceritakan bahwa orang yang selalu memberikan nasihat luar biasa kepada Fahri adalah seorang guru besar Ekonomi Pembangunan di Universitas El-Menya, Prof Dr Abdur Rauf Manshour, yang ditangkap karena kritikan-kritikan tajamnya di koran.
Tapi di film, si pemberi nasihat itu digambarkan Hanung dengan sosok yang jauh dari intelektual, jauh dari gambaran seorang guru besar. Yaitu, seorang lelaki absurt dengan penampilan tak terurus. Sekalipun di film tidak disebutkan bahwa itu Prof Dr Abdur Rauf yang diceritakan Habiburrahman di novelnya, namun jelaslah dari penokohannya, si lelaki tak terurus itu memerankan lakon Prof Dr Abdur Rauf.
Di novel, masuk rumah sakit dan komanya Maria dikisahkan memang karena sakitnya. Di film? Maria masuk rumah sakit karena ditabrak anak buah Bahadur. Di novel, dikisahkan detik-detik meninggalkan Maria adalah dengan ia bolak-balik mencoba memasuki pintu surga, namun ditolak karena belum bersyahadat. Lalu Maria minta diajari mengucapkan syahadat. Dan setelah bisa, ia lalu meninggal. Tapi di film, meninggalnya Maria adalah digambarkan dengan ia minta ikut salat berjamaah, lalu meninggal dalam salatnya.
Hanung hanya mendengarkan paparan saya. Masuk dalam lift, saya pun memintai komentarnya mengenai perbedaan alur cerita Ayat-Ayat Cinta tersebut. "Cerita beda? Ya karena novel dan film medianya beda! Novel ya novel, film ya film. Nggak bisa disamakan donk," jawab Hanung singkat dan tegas.
Kamar saya berada di lantai sepuluh. Satu pertanyaan lagi sempat saya sampaikan ketika lift sudah turun hingga di lantai 5. Saya bertanya, mengapa Hanung menggambarkan kehidupan poligaminya Fahri dengan Aisha dan Maria. Padahal di novel tidak digambarkan hal itu. Apakah karena masih hangatnya isu poligami?
"Saya hanya ingin ngasih kesempatan wanita untuk bicara. Saya ingin menggambarkan begitulah berpoligami. Ada rasa cemburu antara istri yang satu dengan yang lainnya, yang semua itu saya rasa memang tak bisa dipungkiri," paparnya.
"Di samping itu, saya juga kasihan dengan penokohan Maria. Di novel, Maria disembuhkan dari sakitnya hanya untuk menyelamatkan Fahri dari penjara. Nah, di film, saya ingin Maria mendapat balas atas jasanya. Saya ingin, Maria juga merasakan betapa indahnya cinta Fahri, tak sekadar jadi saksi lalu mati," lanjut Hanung, lift sudah sampai di lantai 1, pintunya pun terbuka.
Saya semakin ingin bertanya, sambil berjalan menuju lobby dan pintu keluar, saya tanyakan lagi, mengapa ia tak mau menyamakan dengan di novel. Bukankah sebagai dasar pembuatan, novel Ayat-Ayat Cinta memang harus menjadi pedoman utama dalam penggarapan filmnya? "Saya kira tidak. Kita kan boleh berapresiasi dalam penggarapannya. Selama tidak mengurangi makna cerita, ya tidak akan menjadi masalah," tukasnya yang terus berjalan hingga akhirnya sampai ke pintu keluar hotel.
Sebenarnya, ada satu hal penting yang tak sempat saya sampaikan. Yaitu, mengenai setting tempat yang dipakai Hanung. Di novel, Habiburrahman mengisahkan latar tampatnya adalah daerah Kairo, Mesir. Tapi, Hanung malah take gambar dengan menyulap Semarang dan India saja. Sehingga, pecinta-pecinta yang ingin sekali menemukan gambaran Sungai Nil, tak kesampaian ketika menyaksikan filmnya Hanung.
Saya ingin bertanya, mengapa Hanung tidak langsung bertandang ke Kairo untuk pengambilan gambarnya. Paling tidak, untuk mengambil gambar Sungai Nil-nya begitu. Mengobati penasaran tersebut, saya coba browsing-browsing internet kemarin. Ternyata, di websitenya, Hanung mengupas tuntas soal mengapa ia akhirnya mengambil setting Semarang dan India saja.
"Pengambilan setting Semarang dan India merupakan keputusan akhir setelah terkendala rumitnya perizinan dan biaya pengambilan gambar di Kairo. Biaya satu film di sana (Kairo, red) bisa untuk tiga kali bikin film di Indonesia. Bayangkan, untuk lima hari syuting, kami dimintai Rp5 Milyar, cukup untuk satu film di Indonesia tuh. Kami pernah juga sudah sampai di bandara untuk menuju ke sana. Tapi kami terkendala visa, akhirnya, batal lah syuting di Kairo. Kami sendiri sebetulnya sangat ingin syuting di sana. Tapi apa boleh buat," begitulah kiranya ringkasan alasan Hanung di websitenya, soal mengapa syuting AAC hanya dilakukan dengan menyulap Semarang dan India. (khai_ril)

Mengikuti Laseda Kalsel (1-bersambung)

Pada 5 hingga 7 Juli 2006 lalu, saya mengikuti Lawatan Sejarah Daerah Kalimantan Selatan 2006 yang dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Kalsel dan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak.
Ini sedikit oleh-oleh cerita dari Lawatan Sejarah yang saya ikuti tersebut. Semoga bermanfaat, paling tidak untuk menambah wawasan. Saya bikin tulisan ini bersambung hingga enam seri. Selamat menikmati...


Di tepian sungai, berdampingan dengan kokohnya sebuah jembatan yang panjang lagi besar, sebuah bangunan dengan arsitektur khas Banjar berdiri di tengah rimbun dan lebatnya pepohonan.


BEGITULAH Kiranya gambaran Museum Waja Sampai Kaputing (Wasaka) yang terletak di tepian Sungai Martapura, di Jalan Sultan Adam Komplek H Andir, Kampung Kenanga Ulu RT 14 Kelurahan Sungai Jingah, Kecamatan Banjarmasin Utara, Banjarmasin, yang menjadi tempat pertama kunjungan Lawatan Sejarah Daerah kami.
Di museum yang diresmikan pada 10 November 1991 tersebut, para peserta yang terdiri dari perwakilan masing-masing lima siswa dan satu guru sejarah di SMAN 1 Banjarmasin, SMAN 2 Banjarmasin, SMAN 3 Banjarmasin, SMAN 1 Banjarmasin, SMAN 5 Banjarmasin, SMAN 6 Banjarmasin, SMAN 7 Banjarmasin, SMKN 1 Banjarmasin, serta SMKN 3 Banjarmasin, disambut H Syarifuddin, Ketua Bidang Pengelola Museum Wasaka.
Oleh Syarifuddin, seluruh peserta dijelaskan mengenai semua yang ada dalam museum. Lebih khusus mengenai benda-benda peninggalan para pejuang atau pahlawan daerah Kalimantan Selatan pada masa revolusi fisik tahun 1945-1949 yang pernah digunakan sewaktu menghadapi atau melawan pemerintah kolonial Belanda. Seperti berbagai jenis senjata yang digunakan. Baik itu berupa tombak, mandau, senapan, mortir, maupun yang lainnya.
Ketika kita berkunjung ke museum tersebut, setelah naik tangga dan memasuki pintu, kita terlebih dahulu akan disambut dengan sebuah meja beserta empat buah kursi yang konon dulunya digunakan sebagai tempat pejuang Kalsel untuk bermusyawarah. Di dinding di sekeliling kursi tersebut, kita bisa melihat deretan foto gubernur, mulai dari gubernur yang paling pertama, hingga yang terakhir.

Kalau kita masuk ke ruangan melalui jalur sebelah kiri, maka kita bakal dihadapkan dengan Teks Proklamasi Kemerdekaan RI, daftar organisasi yang pernah berjuang menentang pemerintahan penjajah seperti Lasykar Hasbullah yang bermarkas di Martapura, Barisan Pemuda Republik Indonesia Kalimantan yang bermarkas di Banjarmasin, serta yang lainnya. Berseberangan dengan itu, ada peta Kalimantan Selatan yang dilengkapi dengan bebera foto masyarakat adat di daerah masing-masing.
Lebih ke dalam lagi, kita akan menemui struktur organisasi perjuangan gerilya Kalsel menuju Pemerintahan Gubernur Tentara ALRI, benda-benda bersejarah lain seperti mesin tik kuno, kamera, cermin, dan sebagainya. Selain itu, di museum tersebut juga ada berbagai benda bersejarah lain, salah satunya sepeda kuno yang katanya sewaktu jaman penjajahan dulu, digunakan untuk mengirimkan surat dengan memasukkan surat tersebut ke dalam badan sepeda agar tidak ketahuan kolonial Belanda. Dan seperti yang disebutkan di atas, di museum tersebut juga terpampang berbagai jenis senjata yang pernah dipergunakan untuk melawan kolonial Belanda.
"Dalam museum ini, terdapat kurang lebih 400 benda bersejarah. Sebetulnya, kami memiliki banyak koleksi lainnya. Mulai dari periode Perang Banjar, Perintis Kemerdekaan, Perang Kemerdekaan, Pengisian Kemerdekaan, hingga periode Orde Baru. Namun, karena tempatnya tidak memadai, terpaksa yang kami tampilkan hanya koleksi benda-benda di periode Perang Kemerdekaan saja," ujar Syarifuddin kepada saya.
Ditambahkan beliau, bangunan Museum Wasaka yang ada sekarang sebetulnya tak layak disebut sebagai museum, melainkan hanya sebatas ruang pameran saja. Karena katanya, bangunan yang ada sekarang sangat sempit dan sangat tidak lengkap.
"Seharusnya, sebuah museum itu juga memiliki gudang koleksi, ruang penataan, auditorium, ruang penelitian, dan kamar diskusi. Nah, sementara ini, gedung kita ini hanya untuk memajang benda-bendanya saja. Sehingga saya pikir, ini lebih pantas disebut sebagai ruang pameran saja. Untuk itu, saya harapkan dari pemerintah, agar segera merenovasi Museum Wasaka itu agar menjadi sebuah tempat yang benar-benar layak di sebut sebagai museum," kata beliau.
Sementara itu, Dewi siswi SMA Negeri 5 Banjarmasin yang menjadi salah satu peserta Lawatan Sejarah Daerah Kalimantan, mengaku senang bisa mengunjungi museum tersebut. "Saya senang sekali. Karena di museum ini, saya bisa melihat benda-benda bersejarah, sekaligus bisa menambah pengetahuan saya. Harapan saya, semoga benda-benda bersejarah yang terdapat di museum ini terus dipelihara dan dirawat dengan baik," ujarnya.
Sekadar diketahui, selain mengunjungi Museum Wasaka, Lawatan Sejarah Daerah Kalimantan Selatan ini juga mengunjungi beberapa tempat lainnya seperti Museum Lambung Mangkurat Banjarabaru dan Pendulangan Intan di Desa Pampang Banjarbaru, Masjid Al Mukaromah Rantau, Makam Tumpang Talu Kandangan, Masjid Su'ada Wasah Hilir Kandangan, Benteng Gunung Madang Kandangan, serta Tugu Bersejarah 17 Mei 1949 yang juga ada di Kandangan.
Nah, untuk mengetahui cerita lengkap mengenai tempat-tempat di atas, simak terus lanjutan cerita ini hingga beberapa tulisan berikutnya. (bersambung...)

Mengikuti Laseda Kalsel 2006 (2-bersambung)

Setelah kurang lebih satu jam melihat dan mendengarkan penjelasan berbagai benda bersejarah di Museum Wasaka Banjarmasin, peserta Laseda Kalsel langsung menuju Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru. Apa saja yang dilihat di sana?


KOTA Banjarbaru merupakan kota kedua dari empat kota yang dikunjungi peserta Lawatan Sejarah Daerah (Laseda) Kalsel. Di Kota Banjarbaru tersebut, seluruh peserta yang merupakan perwakilan dari beberapa SMA/SMK di Banjarmasin, yakni SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3, SMAN 5, SMAN 6, SMAN 7 Banjarmasin, SMKN 1, dan SMKN 3 itu terlebih dahulu mengunjungi Museum Lambung Mangkurat Banjarmasin yang terletak di Jalan A Yani KM 36 Banjarbaru.
Menggunakan dua buah bus berukuran sedang dengan kapasitas masing-masing kurang lebih 30 orang, para peserta yang menggunakan kaos biru kehijauan berlengan panjang plus topi berwarna kuning tersebut, tampak menikmati perjalanan meski jarak menuju Museum Lambung Mangkurat mencapai 40 km dari Museum Wasaka Banjarmasin.
Tiba di Museum Lambung Mangkurat yang berdiri kokoh dan megah dengan atap berwarna merah, di atas tanah seluas 1,5 hektare itu, para peserta Laseda Kalsel yang merupakan program gelaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalsel bersama Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak tersebut, disambut hangat pengelola museum. Oleh pengelola museum itu, seluruh peserta dipersilakan dengan bebas untuk melihat koleksi yang ada di ruangan mana saja. Baik yang di lantai atas maupun di lantai bawah.
Bagi peserta yang naik ke lantai atas, mereka dapat melihat berbagai koleksi yang berkaitan dengan kebudayaan dan kerajinan khas Banjar. Ya, di lantai atas tersebut, terpampang berbagai perabot rumah tangga yang sering digunakan masyarakat Banjar, kemudian pakaian adat, peralatan upacara-upacara adat Banjar seperti peralatan Mandi Baya, Baayun Anak, Ma-atar Patalian dan sebagainya. Selain itu, juga ada berbagai jenis bebatuan, alat tenun, alat kerajinan, alat membuat gula merah, alat pertanian ladang berpindah, peralatan pandai besi dan banyak pula yang lainnya. Yang paling menarik, di lantai atas tersebut juga ada ruangan khusus yang menyimpan berbagai koleksi berkaitan dengan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Salah satunya adalah Al Qur'an yang dibuat langsung dengan tulisan tangan Ulama kharismatik yang dikenal juga sebagai Datu Pelampaian itu.

Sementara bagi peserta yang masuk ke lantai bawah, mereka dapat melihat berbagai hal yang berkaitan dengan sejarah dan peninggalan kuno. Di ruang bawah tersebut, peserta dapat melihat Maket Candi Prambanan, Posil Ikan paus yang ditemukan di Desa Tanjung Kunyit Pulau Laut Barat Kotabaru, Maket candi Borubudur. Kemudian ruang arkeologi yang di dalamnya terdapat beberapa peninggalan Candi Agung dan Laras, serta koleksi lainnya.
Koleksi lain yang ada di lantai bawah itu adalah berbagai lukisan yang menggambarkan perjuangan rakyat Kalsel dan lukisan dengan gambar pahlawan Kalsel seperti Pangeran Hidayatullah, Pengeran Antasari, Demang Lehman dan sebagainya. Kemudian juga ada silsilah kerajaan, keramik temuan, peninggalan Kerajaan Pagatan Berupa keris, tongkat, kursi, ranjang, lemari dan sebagainya.
Lalu ada pula koleksi uang lama mulai tahun 1945 hingga 2005, serta berbagai senjata bersejarah. Salah satunya adalah Sungga yang merupakan senjata perang Banjar di daerah Benteng Gunung Madang, Kandangan HSS.
Sungga adalah sebuah senjata dari baja dengan ujung yang lancip, yang diletakkan di air di bawah sebuah jembatan kecil. Sungga sengaja diletakan di bawah jembatan sebagai perangkap. Apabila ada musuh yang menaiki jembatan tersebut, maka jembatan langsung runtuh, dan musuh pun langsung terjatuh dan tertancap di Sungga yang ada di bawah jembatan tadi.
"Museum Lambung Mangkurat ini resmi dibuka pada hari Rabu, 10 Januari 1979 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI yang waktu itu dijabat DR Daoed Yoesoef. Kalau menurut ketentuan yang sudah ditetapkan, klasifikasi koleksi museum ini terdiri dari 10 jenis koleksi, yakni Geologika, Biologika, Etnografika, Arkeologika, Historika, Numimatika/ Heraldika, Filologika, Keramalogika/ Keramik, Koleksi Seni Rupa, serta Teknologika. Sesuai dengan jenis koleksinya, maka museum ini termasuk jenis museum umum," jelas Nasir, salah seorang pengelola museum kepada seluruh peserta.
Setelah puas melihat isi ruang induk museum di lantai atas dan bawah, peserta kemudian diajak untuk melihat koleksi lain yang ada di gedung tambahan di barisan sebelah kanan gedung induk. Di gedung/ruang tambahan itu, peserta bisa melihat koleksi lain berupa lukisan karya Gusti Sholihin, Keramik, Kain Nusantara, serta yang lainnya.
Di salah satu ruang tambahan itu, peserta juga dijelaskan mengenai cara mendulang intan yang banyak dilakoni masyarakat Kalsel saat ini.
Secara ringkas, Nasir menjelaskan pendulangan secara tradisional biasanya dilakukan masyarakat dengan menggali tanah yang diyakini ada intannya untuk diangkut ke "Lambakkan". Setelah itu, tanah kemudian dimasukkan ke "Lumpangan" lalu diayak untuk memisahkan batu-batu yang besar dengan pasir dan batu yang kecil. Hasil ayakan, pasir dan batu-batu kecil tadi kemudian dimasukkan ke dalam "Linggangan" untuk disisihkan lagi, hingga didapatkan serbuk-serbuk emas, serta intan "si Galuh" yang dicari-cari, jika memang beruntung.
Usai mendengarkan penjelasan dan sedikit diskusi, lawatan di Museum Lambung Mangkurat itu pun diakhiri. Guna mengetahui lebih jelas mengenai pendulangan intan, peserta pun dengan tertib kembali memasuki bus untuk selanjutnya menuju tempat Pandulangan Intan di Desa Pumpung Banjarbaru yang jaraknya kurang lebih 15 km dari Museum Lambung Mangkurat. (juga diterbitkan di Harian Pagi Radar Banjarmasin/ bersambung...)

Mengikuti Laseda Kalsel 2006 (3-bersambung)

Terik matahari yang menyengat tak menyurutkan keinginan peserta Laseda Kalsel untuk tetap melanjutkan perjalanan. Dengan semangat menggebu, mereka memasuki bus yang selanjutnya membawa mereka ke lokasi pendulangan intan di Desa Pumpung, Banjarbaru yang berjarak sekitar 15 Km dari Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru. Apa saja yang dilakukan peserta Laseda di lokasi pendulangan tersebut, berikut ceritanya!


RABU Siang (5/7), sekira pukul 13.30 Wita. Seusai melihat-lihat koleksi benda bersejarah, lalu makan siang, dan Salat Zuhur di kawasan Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru, peserta Laseda Kalsel berangkat menuju lokasi pendulangan intan di Desa Pumpung Banjarbaru.
Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang, dua bus rombongan peserta pun akhirnya tiba di lokasi pendulangan. Tanpa dikomando, para peserta langsung turun dari bus dan langsung berhamburan menyaksikan aktifitas para pendulang intan. Ada yang menyaksikan para pendulang yang menggunakan mesin, namun tak sedikit pula peserta yang memilih hanya menyaksikan aktifitas para pendulang intan yang menggunakan peralatan tradisional.
Satu pemandangan unik namun menyedihkan. Unik karena pemandangan itu memang langka dan tak bisa dilihat di daerah lain, terkecuali di lokasi pendulangan. Namun menyedihkan, karena aktifitas para pendulang intan yang menggunakan mesin, bisa dikatakan sebagai aktifitas yang merusak alam.
Betapa tidak, untuk mendapatkan “si galuh” nan berkilau, para pendulang intan itu, mencarinya hingga ke dasar tanah yang terdalam. Tanpa segan mereka membuat galian dengan mesin hingga kawasan pendulangan intan itu menjadi kawah besar yang dalamnya berpuluh-puluh meter.

“Jujur saja, perasaan saya campur aduk ketika mengunjungi lokasi pendulangan intan itu. Di satu sisi, saya merasa kagum dengan anugrah Allah SWT yang menyediakan berbagai kemewahan dari alam hingga manusia bisa menikmatinya. Di sisi lain, saya sedih, karena untuk mendapatkan anugrah yang diberikan Allah itu, manusia tak segan-segan merusak alam,” ujar Rendy Hidayat, salah seorang siswa SMA Negeri 1 Banjarmasin.
Mendulang intan dengan menggunakan mesin, memang lebih menguntungkan ketimbang menggunakan peralatan tradisional. Namun, kalau dinilai dari segi keunikan, tentu cara bekerja dengan menggunakan peralatan tradisional-lah yang paling unik. Lagi pula, cara tradisional tak terlalu merusak alam.
Menariknya, ada beberapa ritual khusus yang sering kali dilakukan oleh pendulang intan dengan peralatan tradisional tersebut. Biasanya, sebelum berangkat bekerja dan mulai menggali, mereka menggelar selamatan.
Kemudian, untuk menentukan kawasan mana yang akan mereka dulang, kebiasaan para pendulang intan menanyakannya terlebih dahulu kepada “orang pintar” atau ulama yang memang dianggap mampu mendeteksi keberadaan “si Galuh” (sebutan orang Banjar terhadap intan, red).
Hal menarik lainnya, ketika intan didapatkan, intan tersebut langsung dimasukkan ke dalam mulut lalu diisap atau “dikucup”. Ada yang mengatakan, hal itu sengaja dilakukan agar intan yang sudah didapatkan tidak lenyap begitu saja. Karena, sebagian masyarakat pendulang intan mempercayai bahwa intan sangat erat dengan alam gaib. Sehingga, kalau tidak “dikucup” terlebih dahulu ketika didapatkan, intan tersebut bisa lenyap karena diambil kembali oleh makhluk alam gaib.
Sekadar diketahui, aktifitas para pendulang intan di kawasan Desa Pumpung Kecamatan Cempaka Banjarbaru itu sudah berlangsung sejak puluhan tahun bahkan ratusan tahun lalu. Pada tahun 1960, di kawasan tersebut pernah digunakan peralatan dari luar negeri. Namun, asilnya tak memuaskan. Dan para pendulang intan pun kembali memilih cara tradisional. Alasannya, cara tradisional lebih membuahkan hasil. Karena menurut kepercayaan para pendulang intan yang menggunakan cara traidisonal, intan intan atau “si galuh” itu baru bisa didapatkan apabila pendulangnya ikhlas dan bekerja dengan lembut. “Galuh itu perlu dielus dan dimanja,” ujar Suriansyah, salah seorang pendulang yang sudah menggeluti pekerjaannya selama 35 tahun.
Diceritakan Suriansyah, sekitar sepuluh tahun lalu, ia pernah mendapatkan intan seukuran batu kerikil. Dari hasil penjualan intan itu, Suriansyah pun berhasil meraup uang tunai sampai Rp19 juta.
“Itu intan terbesar yang pernah saya dapatkan. Selebihnya, saya hanya mendapatkan yang kecil-kecil yang jualannya sekitar satu atau dua juta saja. Tak jarang, saya pun hanya mendapatkan intan lantakan (intan berukuran sangat kecil yang biasanya digunakan untuk susuk, red) yang harganya sangat murah. Ya, hanya puluhan ribu Rupiah saja lah,” ujar pria berusia 45 tahun itu.
Puas melihat langsung proses pendulangan intan, peserta pun bersiap kembali memasuki bus untuk melanjutkan perjalanan menuju tempat ke empat, yakni Masjid Al Karomah di kawasan Rantau. Tapi sebelum itu, peserta terlebih dahulu membeli berbagai batu-batuan nan cantik yang ditawarkan oleh warga pendulangan. Ada yang membeli batu kecubung nan bening, ada yang membeli batu akik dengan harga yang sangat murah, namun ada pula yang sekedar lihat-lihat saja. (bersambung)

Mengikuti Laseda Kalsel 2006 (4)

Di Desa Banua Halat Kiri Kecamatan Tapin Utara yang berjarak sekitar 2 Kilometer ke arah barat dari Kota Rantau, sebuah masjid tua bernama Masjid Al Mukarromah berdiri dengan kokohnya. Nah, masjid yang kabarnya berdiri sejak zaman penjajahan Belanda itulah yang menjadi menjadi lokasi keempat yang dikunjungi peserta Lawatan Sejarah Daerah Kalsel 2006 gelaran Disbudpar Kalsel dan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak.



PERJALANAN Menuju Masjid Al Mukarromah tersebut merupakan perjalanan yang sangat melelahkan. Betapa tidak, dari tempat kunjungan ketiga, yakni Pandulangan Intan di Desa Pumpung Banjarbaru, perjalanan menuju masjid tersebut berjarak sekitar 90 Kilometer. Tak heran, peserta yang tadinya melek pun, berubah menjadi banyak yang ketiduran. Tak terkecuali saya sendiri yang duduk disamping Pak Sopir.
Perjalanan semakin melelahkan, karena ketika menuju masjid tersebut, kedua bus yang kami gunakan sempat bolak-balik lantaran tak tahu persis dimana Masjid Al Mukarromah tersebut. Setelah tanya sana, tanya sini kepada masyarakat sekitar, akhirnya kami tiba di tempat tujuan dengan selamat, meski sedikit molor dari waktu yang ditetapkan.
Di Masjid Al Mukarromah tersebut, kami disambut hangat pihak Dinas Pendidikan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tapin, serta pengelola masjid dan masyarakat sekitar.
Setelah cuci kaki, wudhu, lalu melaksanakan Salat Ashar, seluruh peserta pun diberi arahan dan penjelasan mengenai sejarah Masjid Al Mukarromah tersebut. Saya yang tak ingin ketinggalan informasi turut berbaur dengan peserta yang merupakan perwakilan siswa-siswi dan guru sejarah di SMA/SMK se-Kota Banjarmasin, seperti SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3, SMAN 5, SMAN 6, SMAN 7 Plus, SMKN 1, dan SMKN 3 Banjarmasin. Oleh Drs H A Gazali Usman, salah seorang pengelola masjid yang dulunya juga tercatat sebagai salah seorang dosen di Unlam Banjarmasin, seluruh yang berada di ruang induk masjid dengan arsitektur khas tradisional Kalimantan itu dijelaskan bahwa bangunan masjid yang ada sekarang merupakan hasil pembangunan kembali.
Dulunya, di lokasi pembangunan masjid tersebut memang ada sebuah masjid. Namun, masjid tersebut hangus terbakar setelah diserang tentara Belanda pada masa Perang Banjar di tahun 1962.
Dijelaskan Gazali, serangan tersebut merupakan serangan balasan tentara Belanda, atas penyerbuan pasukan Banua Ampat/ Muning yang dipimpin Pangeran Antasari ke Benteng Tambang Batubara Oranje Nassau di Pengaron pada tahun 1859.
“Ketika itu, seluruh bagian masjid hangus terbakar, terkecuali sebuah tiang yang masih utuh dan dikeramatkan hingga sekarang. Coba lihat tiang di sebelah sana, ada bekas terbakarnya khan?,” tanya Gazali kepada peserta sembari menunjuk sebuah tiang yang ada di sebelah kiri belakangnya.
Mengenai pembangunan kembalinya, Gazali memperkirakan pembangunan tersebut dilaksanakan pada tahun 1331 H atau tahun 1910 M. Perkiraan itu dikatakan Gazali berdasarkan inskripsi berhuruf Arab Melayu yang dipahatkan pada tiang-tiang utama (Soko Guru) dan tiang-tiang penunjang. Di tiang-tiang tersebut terdapat angka tahun dan nama-nama penyumbangnya.
Pada pembangunan tahap pertama pada tahun 1910 tersebut, dijelaskan bahwa Masjid Al Mukarromah dibangun dengan kontruksi panggung berlantaikan kayu jati. Setelah itu, pada tahun 1935, lantainya direnovasi lagi dengan ubin berhias. “Keterangan itu diperoleh dari iskripsi yang terdapat pada salah satu tiang utama yang berbunyi melantai pada tanggal 28-4-35,” jelas Gazali.
Keunikkan masjid ini terlihat pada saat bulan Maulid, tepatnya pada 12 Rabiul Awal yang merupakan tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tanggal tersebut, masyarakat Kalsel berbondong-bondong melaksanakan Ayun Maulid dengan harapan anak yang mereka ayun mendapat syafaat Nabi Muhammad SAW, dan menjadi anak yang shaleh serta berbakti kepada kedua orangtua. Menariknya, yang me-ayun anak pada pelaksanaan Ayun Maulid itu bukan hanya dari masyarakat kawasan masjid, melainkan ada yang sengaja datang dari luar kota.
“Kami juga tidak mengetahui persis mengapa masjid ini dijadikan pusat untuk pelaksanaan acara Ma-ayun Anak. Yang pasti dulunya, di sekitar masjid ini, masyarakat sering melaksanakan acara Ma-ayun Anak dengan berbagai persembahan untuk bidan. Karena tidak ada unsur islami, oleh para ulama saat itu, acara Ma-ayun Anak di arakan ke masjid dengan maksud agar anak mengenal masjid sejak dini, sekaligus mengenal hari kelahiran Nabi Muhammad SAW,” papar Gazali.
Sementara itu, Citra Auliani siswi SMA Negeri 7 Plus Banjarmasin, mengaku senang bisa berkunjung ke masjid tersebut. “Arsitektur masjid ini unik dan jarang sekali ditemui di Banjarmasin. Ternyata di Kalsel banyak sekali tempat wisata yang cukup menarik untuk dikunjungi. Oleh karenanya, saya pesankan kepada seluruh pelajar atau siapa saja, dari pada kunjungan wisata ke luar daerah, mendingan ngunjungin yang ada di daerah sendiri dulu. Karena ya itu tadi, di daerah kita ternyata juga banyak tempat wisara yang menarik untuk dikunjungi,” tandas cewek berkaca mata minus itu.
Usai mendengar penjelasan serta menikmati sedikit suguhan kue khas Banjar, saya, panitia, dan seluruh peserta pun bersiap meninggalkan masjid untuk selanjutnya berisitrahat di Hotel Bangkau Kandangan yang berjarak sekitar 25 Kilometer dari Masjid Al Mukarromah, Rantau.
Tanpa basa-basi, setelah tiba di Hotel Bangkau sekitar pukul 19.00 Wita, seluruh peserta yang sebelumnya menunaikan Salat Magrib dan Isya pun langsung beristirahat guna mempersiapkan diri melanjutkan lawatan ke beberapa tempat bersejarah lainnya, setelah pagi menjelang. (bersambung)

Mengikuti Laseda Kalsel 2006 (5-bersambung)

Kalau melihat areal pemakaman yang masing-masing liang hanya diisi dengan satu jenazah, tentu hal biasa. Tapi, kalau dalam satu liang ada tiga jenazah sekaligus? Tentunya akan menjadi hal yang tidak biasa. Pertanyaannya, mengapa dimakamkan langsung tiga, tidak satu-satu?


AZAN Subuh menggema merdu dari masjid besar yang berada tak begitu jauh dari hotel tempat kami (saya dan peserta Lawatan Sejarah Daerah Kalsel, red) menginap.
Tanpa ba..bi..bu lagi, kami pun langsung beranjak dari tempat tidur lalu segera membersihkan diri dan berangkat ke masjid tersebut untuk melaksanakan Salat Subuh berjamaah.
Usai salat, sedikit melemaskan badan setelah melalui perjalanan panjang sekaligus hendak melihat bagaimana Kota Kandangan, kami pun jalan-jalan mengitari seputaran pusat Kota Kandangan, mulai dari pasar, hingga terminal yang memang juga tak begitu jauh dari Hotel Bangkau dan Loksado Permai, tempat kami menginap.
Sekira pukul 07.30 Wita, kami disuguhi sedikit makan pagi di hotel untuk bekal kami melanjutkan perjalanan di hari kedua lawatan kami (6/7). Tempat pertama yang kami kunjungi di hari kedua lawatan kami tersebut adalah Makam Tumpang Talu, yang terletak di Kampung Parincahan Kandangan, sekitar 2 Kilometer dari pusat Kota.
Mendengar nama makamnya sendiri, bagi kita orang Banjar, tentu dapat memahami bahwa di makam tersebut terdapat tiga jenazah sekaligus dalam satu liang.
Drs H A Gazali Usman, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kandangan menjelaskan, makam tersebut adalah makam Buchori, Landuk, dan Matamin, tiga pejuang Kalsel yang gugur pada persitiwa pemberontakkan Amuk Hantarukung tanggal 19 September 1899. Gazali menceritakan, Buchori yang terlahir dan besar di Puruk Cahu adalah orang kepercayaan Sultan Muhammad Seman, Putera Pangeran Antasari. Pada 1899, Buchori yang dikenal sebagai orang yang memiliki kesaktian dan kekebalan, diutus ke Hulu Sungai Selatan dan bertugas di Amandit. Ketika itu, Buchori menemui Pangeran Yu Ya yang memerintah kawasan Amandit untuk menghimpun kekuatan.
Di bawah prakarsa Buchori, sebagian warga yang sebelumnya dipaksa Kolonial Belanda untuk mengerjakan galian Amandit–Nagara, langsung melakukan perlawanan. Mereka tak lagi bersedia mengerjakan galian. Sayangnya, ulah Buchori yang berhasil mengkoordinir warga tersebut diketahui Kolonial Belanda.
Tanggal 18 September 1899, Belanda yang langsung dituruni Tuan Controler Domes dan Adapirant Wehonleshen mendatangi Pangeran Yu Ya untuk membunuhnya. Beruntung, ketika itu Buchori dan pasukannya datang. Dengan mengucap shalawat Nabi, Buchori dan pasukannya berhasil memukul mundur Kolonial Belanda, hingga Tuan Controler Domes dan Adapirant Wehonleshen serta seorang anak emasnya pun tewas terbunuh.
Melihat pimpinannya terbunuh, warga Hantarukung yang ikut Kolonial Belanda melakukan serangan balik pada 19 September 1899. Mereka mengamuk dan melakukan serangan besar-besaran. Pasukan Buchori yang hanya menggunakan senjata tradisional seperti parang, tombak, dan serapang tak berhasil membendung serangan Belanda yang menggunakan senjata api.
Hingga pada akhirnya, Buchori, Landuk, dan Matamin yang berada di barisan depan pun tewas terbunuh. Tak hanya itu, 23 pasukan Buchori lainnya berhasil ditangkap Belanda. Sembilan dari 23 pasukan itu tewas digantung, empat meninggal di penjara, sementara lainnya dibuang oleh Belanda.
“Semua yang tewas itu dimakamkan di beberapa tempat. Buchori, Landuk, dan Matamin di Desa Parincahan ini, yang lainnya ada di Pemakaman Bawah Tandu, Telapak Gajah, dan Amuk Hantarukung di Desa Hantarukung,” jelas Gazali.
Ditanya mengapa Buchori, Landuk, dan Matamin dimakamkan langsung dalam satu liang, secara historis kata Gazali memang tak pernah diceritakan. Namun, dari segi logika, ketika itu warga masih diselimuti dengan ketakutan terhadap kolonial Belanda, sehingga agar mempercepat proses pemakaman supaya tak diketahui Belanda, maka dimakamkanlah tiga sekaligus.
Usai mendengarkan penjelasan segala hal yang berkaitan dengan Makam Tumpang Talu, atas permintaan salah seorang guru yang juga peserta Laseda Kalsel 2006, lawatan dilanjutkan ke Pemakaman Amuk Hantarukung di Desa Hantarukung.
Setalah itu, barulah Laseda Kalsel gelaran Disbudpar Kalsel dan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak yang diikuti perwakilan siswa-siswi dan guru sejarah di SMA/SMK se-Kota Banjarmasin, seperti SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3, SMAN 5, SMAN 6, SMAN 7 Plus, SMKN 1, dan SMKN 3 Banjarmasin, kembali mengikuti jadwal lawatan yang mengunjungi Masjid As Su’ada Desa Wasah Hilir, Benteng Gunung Madang, dan Tugu Bersejarah 17 Mei 1949. (bersambung)

Mengikuti Laseda Kalsel 2006 (6-habis)

Kandangan merupakan kota terakhir yang kami kunjungi. Setelah pada cerita kemarin dikisahkan mengenai kunjungan ke Makam Tumpang Talu dan kawasan Pemakaman Amuk Hantarukung, kali ini cerita berkisah tentang Masjid As Su'ada, Tugu Bersejarah 17 Mei 1749, dan Benteng Gunung Madang. Berikut ceritanya!

JAM di tangan kiri saya ketika itu menunjukkan pukul 10.00 Wita. Usai mendengarkan penjelasan segala hal yang berkaitan dengan Makam Tumpang Talu, lalu mengunjungi Pemakaman Amuk Hantarukung di Desa Hantarukung, saya, seluruh peserta, dan panitia pun langsung bergerak mengunjungi tempat lawatan berikutnya.
Tempat ketujuh yang kami kunjungi adalah Masjid As Sua'ada yang terletak di Desa Wasah Hilir Kecamatan Simpur, atau sekitar 10 Km dari Makam Tumpang Talu. Masih bersama Drs H A Gazali Usman, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kandangan, di Masjid As Su'ada tersebut kami dijelaskan berbagai hal. Mulai dari sejarah pembangunan, hingga siapa saja yang terlibat dalam pembangunan masjid tersebut.
Pertama kali, Gazali menjelaskan bahwa ide mendirikan masjid tersebut dipelopori oleh Syekh H Abbas dengan pimpinan pelaksana Syekh H Muhammad Said bin H Sa'dudin pada tahun 1908 Masehi atau sekitar tahun 1328 Hijriah.
Menariknya, arsitektur masjid tersebut mempunyai makna tersendiri. Dikatakan Gazali, tiang utama masjid tersebut memiliki panjang sekitar 27 meter yang mana angka 27-nya itu merupakan symbol diawalinya salat wajib pada 27 Rajab.
Kemudian, bubungan atau atap yang dibangun tiga tingkat juga mempunyai makna tiga tingkatan ilmu agama. Tingkatan pertama adalah Syariat, tingkatan kedua Tarikat, sementara tingkatan ketiga adalah Ma'rifat. Sedangkan bagian paling atas yang biasa disebut Patala, merupakan tingkat kesempurnaan setelah Ma'rifat.
Menganai nama masjidnya sendiri, Gazali menceritakan bahwa nama tersebut diambil dari nama salah seorang pendirinya, yakni H Muhammad Said.
"Said (Syekh H Muhammad Said) berasal dari bahasa Arab yang artinya beruntung. Kata Said berubah menjadi Sa'ada, dan akhirnya menjadi Su'ada sebagaimana nama masjid ini sekarang," jelas Gazali.
Ditambahkan Gazali, ada beberapa kejadian di luar logika ketika pembangunan masjid tersebut. Diantaranya, ketika musyawarah hendak membangun masjid dilaksanakan di rumah H Abbas, seluruh peserta musyawarah sempat dikejutkan dengan angin topan. Parahnya, angina topan tersebut hamper saja merobohkan sebuah pohon besar kea rah rumah H Abbas temapt dilaksanakannya musyawarah. Untungnya, dengan keyakinan penuh Syekh H Muhammad Said yang juga turut mengikuti musyawarah berhasil mendorong pohon itu dan membuat angina berpindah arah, hingga pohon besar tadi pun jatuh ke tempat lain.
"Keanehan lainnya terjadi ketika rombongan Syekh H Muhammad Said mengangkut bahan bangunan. Ketika itu, di pertengahan Desa Kalumpang dengan Nagara, rombongan kehabisan lauk untuk makan. Namun tiba-tiba saja, seekor ikan melompat ke perahu yang digunakan oleh rombongan Syekh H Muhammad Said. Hingga rombongan pun tak jadi kehabisan lauk untuk makan," kata Gazali.
Puas mengdengarkan penjelasan mengenai Masjid As Su'ada, saya, peserta, dan panitia Laseda Kalsel gelaran Disbudpar Kalsel dan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak pun bersiap melanjutkan perjalanan. Semula kami ingin ke Benteng Gunung Madang terlebih dahulu, namun karena saat itu sedang digunakan TNI AD untuk latihan menembak, lawatan pun kami seling dulu ke Tugu Bersejarah 17 Mei 1949, yakni tugu yang terletak di Desa Niih (Hulu Banyu) Kecamatan Loksado.
Tugu tersebut merupakan bukti sejarah telah dikumandangkannya sebuah proklamasi yang dikenal dengan nama Proklamasi 17 Mei yang menyatakan bahwa daerah Kalimantan merupakan suatu daerah yang tidak terpisahkan dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Medan yang ditempuh untuk ke tugu tersebut lumayan berat. Meski jalannya cukup lebar dan beraspal, namun tak semua kendaraan roda empat bisa melewatinya. Karena, jalan yang dilalui merupakan jalan yang terkadang mendaki terkadang menurun curam. Alhasil, tak semua peserta lawatan bisa mengikutinya, karena hanya satu bus yang bisa digunakan untuk naik. Sementara bus yang satunya tak sanggup untuk melalui medan tersebut.
Setelah beberapa jam di Bersejarah 17 Mei 1949 dengan lingkungan alam yang asri, berupa pepohonan rindang dan air pegunungan yang mengalir deras, sekira pukul 14.00 Wita, kami kembali melanjutkan perjalan menuju Benteng Gunung Madang yang terletak di desa Madang Kecamatan Padang Batung.
Ketika kami sampai di kawasan tersebut, masih mendengar suara dentuman senjata TNI AD yang melakukan latihan. Setelah setengah jam kemudian, barulah suara itu sepi dan peserta lawatan diizinkan untuk naik ke benteng.
Sayangnya, karena medan menuju benteng tersebut juga sulit untuk dilalui, maka sebagian peserta hanya menunggu di bawah saja, atau sekutar 500 meter dari benteng. Parahnya, mobil yang bisa digunakan hanya mobil sekelas Kijang atau Carry saja, sementara bus tak bisa melewatinya. Alhasil, hanya sedikit peserta yang bisa naik ke benteng tersebut.
Usai melewati perjalanan sekitar 500 meter dengan menggunakan mobil, saya dan beberapa peserta lain yang ikut naik ke benteng mengira langsung sampai di tempat tujuan. Ternyata tidak, untuk sampai ke benteng kami ternyata harus mendaki ratusan anak tangga lagi terlebih dahulu.
Alhasil, Mayang, siswi SMA Negeri 6 Banjarmasin yang sebelumnya saya ajak berjalan kaki saja dari bawah, langsung mengejek saya. "Cuma 500 Meter saja, deket kok, heh," katanya penuh ejek.
Tak kurang 440 anak tangga kami lewati, setelah sampai di atas, ternyata tak ada bangunan tua pun yang kami jumpai di sana. "Benteng ini merupakan benteng penyerangan Pasukan Hidayat dan Demang Lehman ketika menghadapi serdadu belanda. Karena ini bukan benteng pertahanan, jadinya tak ada bangunan pertahanan pun di sini," jelas Drs H A Gazali Usman yang masih mendampingi kami.
Setelah puas mendengarkan penjelasan, sekira pukul 17.00 Wita, kami pun bersiap kembali ke hotel untuk beristirahat dan mempersiapkan diri mengikuti serangkaian kegiatan besok harinya, yang merupakan hari terakhir lawatan sejarah yang kami lakukan. (habis)