Ngomongin Ayat-Ayat Cinta bersama Hanung Bramantyo
Mengikuti kesuksesan novelnya, pemutaran film Ayat-Ayat Cinta yang digarap sutradara muda Hanung Bramantyo juga meledak di pasaran. Pecinta-pecinta film memuji keluarbiasaan karya Hanung tersebut. Tapi oleh sebagian besar pembaca novel Ayat-Ayat Cinta, film yang digarap Hanung dianggap membuat kecewa karena lepas dari konsep aslinya. Apa komentar Hanung? Berikut tulisan saya…
JUMAT malam (14/3) lalu ketika mengikuti perjalanan Lihan, pengusaha muda asal Cindai Alus Martapura ke Jakarta, saya berkesempatan bertemu, bertatap muka, dan ngobrol langsung dengan sang sutradara film Ayat-Ayat Cinta, Hanung Bramantyo. Hanung bertandang ke hotel tempat kami menginap, lalu oleh Lihan, Hanung diajak ngobrol di kamar saya, kamar 1018 Crowne Plaza Hotel Jakarta. Kala itu, ikut pula penyanyi religius, Opick, bersama istri tercintanya.Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang tersedia, usai Hanung, Opick, dan Lihan membicarakan rencana pembuatan film "Sunan Kalijaga" mereka, saya membuka pembicaraan soal film Ayat-Ayat Cinta kepada Hanung.
Pukul 23.30 Wib, sambil berjalan dari kamar menuju lobby Crowne Plaza Hotel untuk selanjutnya Hanung dan Opick meninggalkan hotel, saya ungkapkan mengenai perbedaan-perbedaan antara kisah di film yang digarap Hanung, dengan kisah di novel aslinya buatan Habiburrahman.
Dalam novelnya kata saya, Habibburahman menceritakan bahwa Maria didampingi komplit keluarganya. Ada Yousef adiknya, ada Tuan Boutros Rafael Girgis sang ayah, juga ada ibunya. Mengapa di film hanya dikisahkan Maria dan ibunya saja?
Lalu, ketika Fahri di penjara, di novel Habiburrahman diceritakan bahwa orang yang selalu memberikan nasihat luar biasa kepada Fahri adalah seorang guru besar Ekonomi Pembangunan di Universitas El-Menya, Prof Dr Abdur Rauf Manshour, yang ditangkap karena kritikan-kritikan tajamnya di koran.
Tapi di film, si pemberi nasihat itu digambarkan Hanung dengan sosok yang jauh dari intelektual, jauh dari gambaran seorang guru besar. Yaitu, seorang lelaki absurt dengan penampilan tak terurus. Sekalipun di film tidak disebutkan bahwa itu Prof Dr Abdur Rauf yang diceritakan Habiburrahman di novelnya, namun jelaslah dari penokohannya, si lelaki tak terurus itu memerankan lakon Prof Dr Abdur Rauf.
Di novel, masuk rumah sakit dan komanya Maria dikisahkan memang karena sakitnya. Di film? Maria masuk rumah sakit karena ditabrak anak buah Bahadur. Di novel, dikisahkan detik-detik meninggalkan Maria adalah dengan ia bolak-balik mencoba memasuki pintu surga, namun ditolak karena belum bersyahadat. Lalu Maria minta diajari mengucapkan syahadat. Dan setelah bisa, ia lalu meninggal. Tapi di film, meninggalnya Maria adalah digambarkan dengan ia minta ikut salat berjamaah, lalu meninggal dalam salatnya.
Hanung hanya mendengarkan paparan saya. Masuk dalam lift, saya pun memintai komentarnya mengenai perbedaan alur cerita Ayat-Ayat Cinta tersebut. "Cerita beda? Ya karena novel dan film medianya beda! Novel ya novel, film ya film. Nggak bisa disamakan donk," jawab Hanung singkat dan tegas.
Kamar saya berada di lantai sepuluh. Satu pertanyaan lagi sempat saya sampaikan ketika lift sudah turun hingga di lantai 5. Saya bertanya, mengapa Hanung menggambarkan kehidupan poligaminya Fahri dengan Aisha dan Maria. Padahal di novel tidak digambarkan hal itu. Apakah karena masih hangatnya isu poligami?
"Saya hanya ingin ngasih kesempatan wanita untuk bicara. Saya ingin menggambarkan begitulah berpoligami. Ada rasa cemburu antara istri yang satu dengan yang lainnya, yang semua itu saya rasa memang tak bisa dipungkiri," paparnya.
"Di samping itu, saya juga kasihan dengan penokohan Maria. Di novel, Maria disembuhkan dari sakitnya hanya untuk menyelamatkan Fahri dari penjara. Nah, di film, saya ingin Maria mendapat balas atas jasanya. Saya ingin, Maria juga merasakan betapa indahnya cinta Fahri, tak sekadar jadi saksi lalu mati," lanjut Hanung, lift sudah sampai di lantai 1, pintunya pun terbuka.
Saya semakin ingin bertanya, sambil berjalan menuju lobby dan pintu keluar, saya tanyakan lagi, mengapa ia tak mau menyamakan dengan di novel. Bukankah sebagai dasar pembuatan, novel Ayat-Ayat Cinta memang harus menjadi pedoman utama dalam penggarapan filmnya? "Saya kira tidak. Kita kan boleh berapresiasi dalam penggarapannya. Selama tidak mengurangi makna cerita, ya tidak akan menjadi masalah," tukasnya yang terus berjalan hingga akhirnya sampai ke pintu keluar hotel.
Sebenarnya, ada satu hal penting yang tak sempat saya sampaikan. Yaitu, mengenai setting tempat yang dipakai Hanung. Di novel, Habiburrahman mengisahkan latar tampatnya adalah daerah Kairo, Mesir. Tapi, Hanung malah take gambar dengan menyulap Semarang dan India saja. Sehingga, pecinta-pecinta yang ingin sekali menemukan gambaran Sungai Nil, tak kesampaian ketika menyaksikan filmnya Hanung.
Saya ingin bertanya, mengapa Hanung tidak langsung bertandang ke Kairo untuk pengambilan gambarnya. Paling tidak, untuk mengambil gambar Sungai Nil-nya begitu. Mengobati penasaran tersebut, saya coba browsing-browsing internet kemarin. Ternyata, di websitenya, Hanung mengupas tuntas soal mengapa ia akhirnya mengambil setting Semarang dan India saja.
"Pengambilan setting Semarang dan India merupakan keputusan akhir setelah terkendala rumitnya perizinan dan biaya pengambilan gambar di Kairo. Biaya satu film di sana (Kairo, red) bisa untuk tiga kali bikin film di Indonesia. Bayangkan, untuk lima hari syuting, kami dimintai Rp5 Milyar, cukup untuk satu film di Indonesia tuh. Kami pernah juga sudah sampai di bandara untuk menuju ke sana. Tapi kami terkendala visa, akhirnya, batal lah syuting di Kairo. Kami sendiri sebetulnya sangat ingin syuting di sana. Tapi apa boleh buat," begitulah kiranya ringkasan alasan Hanung di websitenya, soal mengapa syuting AAC hanya dilakukan dengan menyulap Semarang dan India. (khai_ril)































